Kamis, 11 November 2010

Perkembangan dari Bahasa Jawa

Dalam bahasa jawa sering terdengar bahasa yang asing buat sebagian dari kita, terutama yang terbiasa di lingkungan yang sehari-harinya menggunakan bahasa indonesia, meskipun bahasa yang di pakai mungkin sebagian yang tidak sesuai dengan standard bahasa indonesia yang di bakukan. Paling tidak dari kebiasaan mendengarkan bahasa indonesia kemudian masuk ke dalam lingkungan yang kesehariannya memakai bahasa jawa. Ketika pertama kali mendengarnya yang terlintas dalam pikiran adalah aneh, dan tidak jelas. Dari mendengarkan yang aneh itu akhirnya terbiasa dan timbul perasaan penasaran, apa makna dan arti yang sesungguhnya.

Penerbitan Bahasa Jawa

Penerbitan secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu penerbitan pers (majalah dan surat kabar) dan penerbitan buku. Sekarang tidak ada sebuah pun surat kabar yang terbit dalam bahasa daerah. Pada masa sebelum perang ada beberapa surat kabar yang terbit dalam bahasa Jawa dan Sunda seperti Sipatahoenan, Siliwangi dan Sinar Pasoendan dalam bahasa Sunda, Expres dan Bromortani dalam bahasa Jawa. Pada masa pendudukan Jepang semua penerbitan dalam bahasa daerah dilarang, termasuk penerbitan suratkabar dan majalah. Tapi pada tahun 1950-an sampai 1960-an, bahkan awal tahun 1970-an masih ada yang mencoba menerbitkan surat kabar dalam bahasa daerah (Sunda), walaupun hidupnya merana.
Yang masih ada adalah penerbitan majalah atau tabloid. Dalam bahasa Jawa ada Panjebar Semangat, Joyoboyo, Djoko Lodang, dll. Dalam bahasa Sunda ada Manglé, Kalawarta Kudjang, Galura, Cupumanik, dll. Panjebar Semangat yang didirikan oleh Dr. Soetomo terbit sejak tahun 1930-an, Joyoboyo yang mula-mula terbit di Kediri kemudian pindah ke Surabaya terbit sejak tahun 1940-an (pada masa revolusi). Keduanya berupa majalah. Djoko Lodang berupa tabloid. Manglé terbit mula-mula bulanan, sekarang mingguan terbit sejak tahun 1957. Cupumanik terbit bulanan sejak Agustus 2003, keduanya berupa majalah. Sedangkan Kalawarta Kudjang terbit mingguan sejak 1950-an dan Galura terbit mingguan sejak 1970-an berupa tabloid. Di samping itu banyak majalah dan tabloid yang pernah terbit dalam bahasa Jawa dan Sunda tetapi hanya beberapa tahun atau beberapa bulan bahkan.
Umumnya penerbitan itu lebih didorong oleh rasa cinta terhadap bahasa daerah sehingga kebanyakan tidak dilakukan secara profesional, baik redaksional maupun (apalagi) pemasarannya. Jumlah tirasnya sekarang cenderung menurun. Umumnya juga mereka bukan saja membayar honorarium tulisan dari luar (sangat) rendah, melainkan juga gaji para karyawannya pun lebih rendah daripada penerbitan dalam bahasa nasional. Umumnya kelangsungan hidup penerbitan-penerbitan itu tergantung kepada langganan, sedangkan iklan tak dapat diharapkan, karena para pemasang iklan cenderung lebih suka memasang iklan dalam penerbitan bahasa nasional. Isinya umumnya berupa cerita, baik cerita pendek maupun cerita bersambung, di samping itu banyak memuat puisi, terutama sajak (atau geguritan dalam bahasa Jawa) dan puisi tradisional (atau guguritan dalam bahasa Sunda). Tulisan-tulisan yang lain kebanyakan tentang agama, sejarah atau legenda, kepercayaan akan adanya yang gaib-gaib, perimbon, pengobatan tradisional dan semacamnya. Ada juga berita, tetapi umumnya jauh terlambat dibandingkan dengan pers bahasa nasional. Kadang-kadang ada tulisan populer mengenai hukum, pertanian, kesehatan dan ilmu-ilmu yang lain.
Bahasa Jawa dan Sunda yang dahulu pernah menjadi bahasa budaya yang dipergunakan untuk menulis mengenai apa saja tentang kehidupan dan kebudayaan masing-masing, sehingga melahirkan karya seperti Serat Centhini dalam bahasa Jawa, sekarang hanya dipergunakan sebagai bahasa lisan (itu pun sekedar berkomunikasi sehari-hari karena begitu hendak mengemukakan hal yang lebih rumit secara otomatis pindah kode ke dalam bahasa Indonesia) dan bahasa tulisan berupa artikel pendek, di samping digunakan untuk penulisan cerita dan sajak. Tidak ada yang menulis karya ilmiah yang serius dalam bahasa daerah.
Bentuk penerbitan lain adalah berupa buku. Umumnya penerbitan buku bahasa daerah dilakukan oleh orang-orang yang merasa terdorong untuk memelihara kelanggengan bahasa daerahnya. Penerbit komersial umumnya hanya menerbitkan buku-buku bahasa daerah yang dipergunakan di sekolah-sekolah, terutama buku-buku teks. Orang yang menerbitkan buku bahasa daerah karena terdorong oleh rasa cinta itu tidak melakukannya secara profesional. Mereka merasa tugasnya selesai begitu melihat buku itu selesai dicetak. Tak pernah memikirkan bagaimana caranya agar buku-buku itu sampai ke tangan pembaca. Sedangkan penerbitan buku teks yang dipergunakan sekolah-sekolah sering dilakukan karena adanya KKN antara penerbit dengan pejabat yang berwenang menentukan dan memesan buku yang akan dipakai di sekolah. Penerbit merasa tugasnya selesai kalau sudah menyerahkan dana KKN kepada pejabat yang bersangkutan, dan si pejabat sering tidak peduli apakah bukunya benar dicetak sebanyak pesanan dan benar disampaikan ke sekolah yang bersangkutan. Karena itu sering terjadi bahwa buku yang dipesan itu tidak layak pakai, karena bukan saja tidak sesuai dengan semua tiori pendidikan, melainkan juga menyalahi aturan bahasa daerah yang bersangkutan. Di Jawa Barat pernah pihak P dan K mengesahkan dan memesan buku pelajaran bahasa Sunda yang ditulis oleh bukan orang Sunda dan isinya banyak menyalahi tatabahasa dan kosakata bahasa Sunda. Baru-baru ini pihak Diknas menerbitkan sendiri buku yang ditulis oleh salah karyawannya dalam bahasa Sunda dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang akan menyebabkan orang tertawa terpingkal-pingkal karena ngaconya.
Biasanya menghadapi keadaan penerbitan bahasa daerah yang menyedihkan itu, para ahli bahasa dan sastera bahasa daerah mengharapkan pemerintah baik di pusat maupun di daerah turun tangan, misalnya dengan menerbitkan buku-buku bahasa daerah oleh penerbit pemerintah Balai Pustaka seperti pada masa sebelum perang, atau menyediakan perpustakaan di sekolah-sekolah. Tetapi pemerintah RI baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah sejak berdiri tahun 1945 tidak pernah menaruh perhatian serius terhadap mati-hidupnya bahasa dan sastera daerah (dan juga bahasa dan sastera nasional), karena pemerintah tidak pernah menganggap kebudayan penting dalam kehidupan berbangsa. Mereka menganggap kebudayaan itu sebagai barang jadi berupa komiditi yang dapat dijual untuk menarik wisatawan yang akan menghasilkan dolar. Karena itu sekarang kebudayaan digabungkan dalam satu atap dengan pariwisata. Memang kadang-kadang pejabat dari yang rendah sampai yang tertinggi berbicara muluk tentang kebudayaan, tetapi tak pernah ada program yang nyata dan kontinyu untuk pembinaan kebudayaan. Kalau sekali-sekali mengadakan hajat besar seperti kongres, bukanlah karena menganggap penting memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam bidang kebudayaan, tetapi karena kegiatan seperti ini adalah semacam proyek yang memerlukan dana yang cukup besar, sehingga semua pejabat yang bersangkutan dengan kegiatan ini dapat menambah penghasilan karena gajinya sendiri konon tidak cukup. Setelah acara seperti ini selesai, hasilnya akan tertumpuk di dalam lemari di sudut dan tak seorang pun pejabat yang teringat untuk melaksanakan keputusan dan rekomendasinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar